Motherhood

LITTLE YESI TELL YOU A STORY

Ketika bertemu anak kecil yang kadang ngobrolnya saja masih belum nyambung kita sering menyepelekan apa yang mereka ingat kemudian. Dan itu yang saya rasakan sekarang, saat ditanyakan apa yang saya ingat saat kecil ternyata saya ingat banyak hal terutama apa yang saya rasakan secara detail malah. Saat saya merasa kesal akan sesuatu atau sedih setelah dimarahi atau merasa dipermalukan di sekolah saat lupa mengerjakan peer dan banyak hal lainnya.

Saya melewati masa kecil yang agak berbeda dengan gambaran sempurna banyak keluarga pada umumnya dimana anak dekat dengan salah satu orang tua atau keduanya. Justru saya tidak dekat dengan kedua orang tua saya, hubungan saya dan orang tua terbilang kaku tapi tentu saya sangat menghormati mama papa. Perintah mereka bagai sabda buat saya, tak bisa saya tolak karena takut durhaka. Pure dari hati saya paling dalam bukan karena paksaan atau ingin mengharapkan sesuatu.

Hubungan kaku saya dan orang tua sedari saya kecil bermula dari lingkungan yang orang tua saya alami saat dibesarkan, mereka tidak terbiasa mengekspresikan apa yang mereka rasakan, sesederhana pelukan setiap malam atau ucapan “mama sayang kamu nak”. Bukan karena mereka tak sayang tapi karena memang mereka tidak terbiasa.

Awalnya dulu saya merasa mama papa tak sayang sama saya, karena saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan ART di rumah dan saya tak pernah mengalami fase orang tua menjemput atau mengantar saya ke sekolah atau bahkan membantu saya mengerjakan peer. Semua tugas itu tok diamanatkan pada bibi atau saudara yang mama papa amanati untuk menjaga saya.

Beruntung saya anak kelima dari enam bersaudara dan hubungan kami berenam terbilang dekat dan alhamdulilah saya punya kakak kakak yang soleh solehah di mata saya. Malah saya tergolong anak yang paling eksploratif diantara kaka kaka saya, kebayang gak pas SMA mama papa pernah shock gara gara tahu saya tindik lidah dan pusar gara gara ngefans Britney Spears (maaf ya ma, pa dan semoga anak saya ga bikin saya jantungan nanti saat tumbuh besar kaya saya hihi).

Jadilah saya punya teman sharing banyak hal dengan kakak kakak dan adik, dan tentu bagaimana kami menghadapi hubungan kaku bersama orang tua. Dan saya mendapat pengertian bahwa terkadang kita tak bisa mengubah sifat seseorang apalagi yang sudah terbentuk yang bisa kita lakukan adalah mengubah diri kita. Jadi secuek apapun mama papa saya, saya tetap berusaha menjaga kepercayaan mereka dan berusaha tetap menjadi kebanggan mereka.

Ada kalanya saya sedih saat mama papa tidak memberikan ekspresi saat saya berhasil meraih juara satu lomba atau mengundang mereka untuk menerima penghargaan sebagai orang tua saat saya jadi juara umum. Tapi beberapa bulan kemudian saat saya bertemu teman teman mama papa atau tetangga dan saudara mereka bercerita betapa bangganya mama papa akan apa yang sudah saya capai. Lucu bukan?hihi

Sekarang setelah saya besar, dan papa berpulang lebih dulu saya menyadari seberapa besar mama papa sayang sama kita anak anaknya. Tapi tentu dengan cara berbeda, dan saya tak bisa menyamakannya dengan orang tua yang lain sebagaimana mereka menerima saya dengan kekurangannya di banding anak lain. Saya sayang mereka berdua apa adanya dan bercita cita semoga bisa menjadi penolong mereka hingga nanti di yaumul hisab.

Yang terpenting saya belajar untuk memperbaiki apa yang saya rasakan saat kecil untuk anak saya saat ini, bahwa untuk bisa tahu bagian penting dalam hidup seorang anak kita harus menjadi bagian dari keseluruhan cerita mereka. 

Love,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *