Personal

WHAT 2018 HAS LEFT ME TO

Jadi jika berbicara soal kaleidoskop 2018 entah kenapa memory saya terus terbang ke 2016, mungkin karena memang 2018 adalah kelanjutan dari hal besar yang saya alami di 2016.

Di tahun 2016 saya diuji dari berbagai arah dalam waktu bersamaan dan menjadi turning point saya untuk berubah. Kalau versi diri saya dulu tidak Allah “hancurkan” mungkin tidak akan ada saya hari ini, qadarallah yang harus saya jalani dalam proses kehidupan.

Saat itu yang bisa saya cerita, kami melakukan satu kesalahan besar yang karenanya kami harus kembali ke titik nol. Bukan hanya urusan materi yang diuji tapi juga hubungan dan kepercayaan.

Entah kenapa di masa itu ada banyak tipe tipe manusia yang Allah tunjukan pada saya. Entah itu orang yang tiba tiba lupa pada kami padahal dulu setiap hari sms minta sokongan finansial, lalu saat kami jatuh berlagak lupa karena merasa sudah berhasil SENDIRI.

Atau orang yang tiba tiba tidak bisa menolong saya di saat saya amat membutuhkan bantuan (bukan materi ya tapi hal lain) padahal dulu tiap hari chat saya menanyakan hal apa yang bisa dibantu.

Atau orang yang tanpa alasan benci sama saya dan menjelek jelekan saya di belakang tapi saat saya minta ketemu baik baik untuk tabayun dan menjernihkan masalah dia tak berani sama sekali. Tapi tak juga berhenti berceloteh tentang saya di belakang.

Atau satu tipe orang yang menganggap kesalahan saya abadi sama dia, dan saya gak ngerti apa yang harus saya lakukan supaya dia berhenti dan bersikap normal selayaknya manusia sama saya.

Saat itu saya sempat marah…

Marah sama diri saya sendiri karena berharap lebih pada manusia. Apapun yang mereka lakukan mereka hanya menjadi dirinya sendiri. Dan disinilah tugas saya untuk menjadi orang yang lebih baik dibanding orang yang saya hadapi.

Saya belajar banyak dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia, berusaha mengikuti alurnya dan terbiasa dengan dramanya. Sehingga kemudian saya menjadi tak terlarut saya mendapatkan perlakukan tak menyenangkan dan tak terbang tinggi dalam ekspektasi saat bertemu perlakuan manis.

Di akhir 2018 setelah menjalani berbagai fase saya mulai menyadari maksud baik Allah membiarkan saya melewati semua hal berat yang saya anggap ujian. Sering allah tidak berikan apa yang kita inginkan karena menggantinya dengan yang lebih baik.

Dan saya mensyukuri semua yang telah saya jalani dan hadapi, karena setelah kesulitan Allah akan berikan banyak kemudahan pada kita. Di tahun ini saya amat bersyukur atas banyak nikmat dan kejutan manis yang telah Allah berikan.

Di awal tahun saya bisa menyelesaikan tugas kepemimpinan paguyuban dan menyerahkan tongkat estafet kepada ketua selanjutnya dengan kepala tegak. Menjalani dua tahun penuh dengan segala kesalahan, kealfaan, kemajuan, dedikasi, keberhasilan dan segala cerita yang menyertainya. Saya bangga sama diri sendiri bisa berubah kuat menjalaninya sampai selesai padahal sering mengeluh ingin berhenti di tengah jalan. Dan amat bersyukur di sepanjang perjalanan bisa dipertemukan dengan banyak orang orang tulus yang jadi teman saya hingga saat ini dan banyak kesempatan yang belum tentu saya bisa dapatkan kembali.

Dan seperti saya bilang saya senang menjadi ikan kecil di kolam yang lebih besar dibanding jadi ikan besar di kolam kecil. Setelah betul betul rehat dari paguyuban siapa sangka tiba tiba Allah berikan kesibukan lain dengan memberikan saya kesempatan bergabung dengan beberapa komunitas blogger di Bandung yang memberikan saya banyak kesempatan luar biasa. Kepada teh Amy saya berhutang banyak karena membukakan pintu silaturahmi bersama blogger lain. Dan dengannya semoga tahun mendatang saya bisa memberikan tulisan dan karya lebih baik lagi.

Di tahun ini pun tiba tiba saya bisa pergi ke tempat tak terduga, di bulan Maret saya terbang bersama keluarga kecil ke Bali bersama Chocodot atas tulisan saya di blog ini. Dan di bulan April saya terbang bersama mama ke Turki untuk menemani mama berlibur, awalnya saya akan menemani mama akhir tahun ini untuk umrah tapi kemudian suami saya sudah angkat alis tanda keberatan. Alhamdulilah mama diantar kakak dan ipar saya pergi umrah akhir tahun ini. Semua atas ijin Allah semata dan saya tak tahu akan kemana di tahun mendatang, semoga lebih banyak kesempatan yang datang.

Dulu saya hanya bergumam sama suami saya

“Apa rasanya ya pah kalau saya punya online shop?”

Dan sekarang saya punya dua online shop yang sebetulnya saya bangun dengan unsur tanpa sengaja dan arah yang tak terduga, awalnya rencana panjang pengen bikin A,B,C eh kok jadinya X,Y,Z. Dan menambah kesibukan saya selain menjalani beberapa usaha offline yang saya jalani dari kecil hingga tiba tiba sekarang sudah mulai menggendut dan naik berkali lipat dari awal saya pegang. Tentu ini hasil kerja keras tim. Dan secara tak sengaja saat saya sharing sama teman baik saya Ashry Rabbani ternyata rencana bisnis kita tertukar dan kita sama sama tertawa. Yang penting saling mendoakan dan saling mendukung semoga bisa menjadi sukses di jalan yang sudah Allah berikan. Di tahun yang sama usaha suami yang baru dia mulai kembali mulai menunjukan sinyal menguat, dan semoga akan terus tumbuh menggeliat ke arah yang lebih baik.

Tapi tentu ada pula masa perih yang harus saya lewati saat ekspektasi saya meleset, di saat investasi saya gagal dan bahkan silaturahmi saya rusak dengan teman dan belum selesai sampai sekarang. Atau salah satu usaha lain saya yang masih megap megap karena kondisi pasar yang tak ramah, meskipun saya harus bersyukur bisa bertahan di saat orang lain sudah mulai gulung tikar. Ada kok ragu dan trauma dalam hati tapi saya suka diingatkan oleh suami akan kisah sukses pengusaha besar suami suka bilang

Ma kamu tahu gak berapa kali pabrik Suichiro Honda bangkrut dan rugi?Kalau dia dulu berhenti tidak akan ada perusahaan sebesar Honda saat ini. Yang penting jalani maksimal”

Dan saya mulai mengumpulkan keberanian dan kepecayaan diri saya kembali, seperti Ummu Balqis bilang

Pas episode happy percaya ini karena doa dari orang orang yang sayang sama kita bukan karena HEBATNYA KITA.

Pas episode gagal karena kita kurang ilmu, kurang cermat, kurang doa, kurang sedekah.

Yang pasti 2019 menawarkan semangat dan ASA baru

Satu hal lain yang ingin saya terapkan di 2019

Stop comparing your achievement to other, and start counting your endless bless. Comparison is the thief of joy.

Dan berusaha untuk menjadi the DO-ER, mulai aja dulu, jalanin aja dulu. Dari berjuta mimpi rencana dan harapan yang saya simpan untuk tahun mendatang, mulai cicil sebelum mimpi kamu dijalani atau diwujudkan oleh orang lain.

Jadi selamat menjalani tahun baru dengan resolusi kalian ya teman teman. Kita tak pernah tahu sampai kapan waktu kita di dunia tapi pastikan kita menjalaninya dengan penuh manfaat.

Salam sayang

22 Comment

    1. Wkwkwkwk banget mil. Kalau lagi di bawah jangan sedih tar naik lagi. Kalau lagi di bawah jangan khawatir gar ngerasain di bawah *lho

      Semoga 2019 #emilnikah terwujud eaaaa wkwk

  1. tulisannya keren banget teh ..
    sending all my love untuk semua perempuan tegar dengan masalahnya masing – masing..
    semoga tahun 2019 dan selanjutnya bisa semakin sukses ya tehh

    1. Karena memang si pencuri ini nih biang kerok kita suka ngerasa rendah diri hihi. Makasi doanya teh doa terbaik buat teteh dan keluarga juga ya di 2019 😊

  2. MasyaAllah yah..Allah yang memberikan ujian Allah juga yang ngasih solusinya.. betul memang bersamaan dengan kesulitan ada 2 kemudahan.. Allah tepati janjiNYA

  3. Subhanallah teh, jadi penyemangat juga nih buat aku. Ternyata roda itu benar-benar berputar. Akan ada masa dimana kita di bawah dan di atas. Allah benar-benar sebaik-baiknya perencana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *