Petite Second Room

Idul Fitri 1442 H

Happy Belated Eid Mubarak teman teman ❤️

Meskipun masih dalam suasana pandemi tapi tidak mengurangi antusiasme dalam menyambut bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri.

Bulan suci tahun ini momen Freya belajar lebih serius dalam menjalani puasa dan ibadah ibadah rutin bulan Ramadhan. Freya belajar untuk puasa penuh sampai magrib saat dia mampu. Yang utama buat saya tetap mengenalkan dan membiasakan Freya untuk menjalani rutinitas khas selama bulan Ramadhan tidak ada target tertentu.

Kadang saya begitu terpukau dengan bagaimana kurikulum masa kini membentuk anak anak, seingat saya saat saya masih TK dulu saya hanya belajar lagu lagu dan mewarnai serta menggambar. Anak sekarang? wah jangan ditanya anak 5 atau 6 tahun sudah bisa bacaan shalat full bahkan hampir sebagian juz amma. Semoga perkembangan ini adalah hal yang baik dalam tumbuh kembang anak.

Selain shalat dan mengaji hal yang sulit dilakukan adalah bangun sahur dan menjalani puasa. Membangunkan anak pukul 3.30 pagi bukan hal yang mudah, bangunin orang dewasa dan diri sendiri saja peer banget apalagi ini anak yang masih kecil. Yang utama anak mulai mengenal apa yang rutin dlakukan, untuk tahannya puasa saya tidak memaksa anak untuk sampai tamat. Tapi biasanya kalau dia kebetulan tahan sampai lebih dari jam 3 atau waktu ashar saya coba bujuk untuk tahan sampai magrib karena sayang perjuangannya sudah mendekati akhir. Dan semua orang tua tau bagaimana rasanya membujuk anak untuk bertahan di jam jam krusial tersebut hihi.

Selain urusan ibadah, hal yang memorial dalam menyambut akhir ramadhan adalah masanya saling berbagi dengan sanak saudara atau relasi. Dan beberapa saat kemarin muncul pernyataan sederhana namun menohok.

PERLU TIDAK SALING BERBALAS HAMPERS MENJELANG HARI RAYA?

Sempat agak kaget saat topik ini mengemuka apalagi ternyata ada banyak orang yang merasa terbebani saat menerima hampers dan harus membalasnya karena budget yang terbatas di hari raya. Apalagi situasi saat pandemi ini kurang baik untuk perekonomian.

 

Yang saya ingat dari hampers atau parcel adalah moment saling berbagi dan sudah jadi kebiasaan baik orang Indonesia dari duluuu sekali. Mungkin sekarang istilahnya yang bergeser dari parcel ke hampers, padahal seingat saya orang orang punya kreatifitas luar biasa saat menjelang Idul Fitri. Dari berkirim makanan buatan sendiri, pakaian, dan yang paling umum kue kue kering yang dirajai nastar dan putri salju.

Perlukan membalas kiriman hampers dari teman?

Momen ini momen yang tepat untuk saling mengingatkan baik pemberi dan penerima. Untuk pemberi ingat kembali NIAT awal kita memberi, apakah demi konten sosmed? ataukah berharap dibalas dengan hal sepadan? atau ridho mencukupkan Allah yang membalas semua kebaikan kita? Jangan bebankan orang yang kita beri untuk membalas, jangan sampai niat baik kita hangus terbakar riya.

Kepada penerima, momen yang tepat untuk tidak membebankan diri untuk membalas. Jika memang kamu ada rejeki lebih dan ingin memberikan hal serupa maka hal ini amat baik, tapi tidak dalam konteks kompetisi pemberian siapa yang lebih bagus atau lebih mahal. Balaslah sesuai kemampuan dan keikhlasan kita. Jika memang teman yang memberi ini jadi berbeda hanya karena kita tidak membalas kiriman beliau bisa jadi Allah bukakan untuk kita mana teman yang betul betul tulus berteman dengan kita mana yang tidak.

Hal yang sama terjadi pada “amplop lebaran”, buat saya amplop lebaran itu momen untuk memeriahkan Idul Fitri bukan untuk menunjukan siapa yang memberikan lebih besar terutama untuk anak anak. Kalau dulu sekedar cerita dengan teman sekelas di masa kini beberapa orang bahkan membuat konten dari amplop lebaran. Mau unboxing atau nggak itu hak masing masing, namun kebijakan kita sebagai audience sangat diperlukan karena seperti kata pepatah Comparison is the thief of joy. Jangan sampai jadi kufur nikmat dengan melihat apa yang orang lain dapatkan.

Yang saya share setiap tahun justru  apa yang dilakukan pada uang amplop anak anak?(mamanya udah gak kebagian jatah haha)

Ada banyak pilihan yang bisa dilakukan bahkan di tiktok jadi guyon sindikat pemakai uang lebaran bocil haha. Untuk saya pribadi terinpirasi dari ipar uang amplop anak anak dikumpulkan kemudian DITABUNG atau sebagian dibelikan ke emas (kalau saya) untuk keperluan anak anak nantinya karena kembali ini uang mereka bukan punya saya. Tapi kembali setiap keputusan terbaik ada di tangan masing masing.

Fast forward ke hari raya, tahun ini kami lewati masih dalam fase adaptasi pandemi, angka positif masih sangat tinggi, mudik ditiadakan dan acara silaturahmi besar terpaksa dilewatkan. Kita berkumpul hanya dengan keluarga inti dan sanak saudara dekat. Beruntung keluarga kami tinggal berdekatan (kecuali adik yang kerja di Jakarta) sehingga kumpul keluarga masih mungkin dilakukan meskipun di masa pandemi karena masih satu kota.

Selain berkumpul dan bersilaturahmi, lebaran adalah momen mengunjungi keluarga yang sudah tiada. Amat saya sadari bahwa doa akan sampai dimanapun kita panjatkan tapi keinginan untuk melihat tempat peristirahatan terakhir orang orang tersayang yang sudah tiada seperti satu keinginan yang tak ingin dilewatkan. Doa terpanjat untuk sanak saudara teman teman yang sudah lebih dahulu meninggalkan kita.

Selebihnya kami menikmati hari hari libur lebaran dengan bersantai di rumah atau main ke tempat wisata dekat rumah jika sepi, kebetulan dengan tidak diperbolehkan mudik tahun ini banyak tempat relatif sepi. Opsi lain yang bisa dilakukan juga yaitu staycation (ceritanya menyusul ya) semuanya tetap dengan memperhatikan prokes supaya tetap aman terkendali.

Terakhir pengingat setelah Ramadhan usai, apa yang berubah dari diri setelah melewati Ramadhan tahun ini?

Semoga kualitas diri dan ibadah makin baik dan akan terus bisa diamalkan hingga bertemu Ramadhan berikutnya. Btw gimana cerita lebaran kamu?

Love,

Exit mobile version