Site icon Petite Second Room

It’s Seven!

How far did you ever get in relationship?

Me?

This 7 years of marriage, haha

Baca Juga : Enam Tahun Kemudian

Jujur saat menyentuh tanggal 25 Agustus untuk ketujuh kalinya saya ada dalam perasaan campur aduk, gak kerasa saya bisa hidup bersama lelaki ini begitu lama. It’s not always rainbow, in fact we’ve been in a very bad storm and we can survive and smile at the end.

Sebelumnya saat masa lajang sebelum menikah saya gak bisa tahan dalam satu hubungan bertahun tahun. Mungkin bisa jadi suami sosok yang lebih dewasa untuk urusan menjalani hubungan dibanding saya yang masih suka kebawa masa pacaran. Dikit dikit emosional minta putus *lah tapi sekarang udah gak lagi hehe.

Dan btw tahun ini kami menyambut kehadiran buah hati kami yang kedua setelah beberapa tahun membujuk kaka, the more the merrier hehe

Baca Juga : Tentang Melahirkan Anak Kedua

Apakah dengan kehadiran anak kedua semua menjadi lebih mudah? Tidak, tapi semuanya lebih tertata karena tanggung jawab kami bertambah. Sudah saatnya memecut diri untuk “pelajaran” di tingkat berbeda. Kaya ada pikiran berbisik

“Anak udah dua mas iya kelakuan masih gitu aja?” Oops

Ada banyak hal yang saya pelajari selama menjalani pernikahan, salah satunya di tahun ini adalah ilmu muamalah, secara singkat dapat dipahami sebagai bagian dari hukum Islam yang mengatur hubungan antara seseorang dan orang lain.

Lantas apa hubungannya dengan pernikahan?

Singkat cerita beberapa bulan lalu saya mengalami masa yang sulit, masa saya hampir menyerah atas ujian yang datang. Saya pikir dulu saya sudah cukup dewasa dan kuat menghadapi masalah yang ada namun Allah teramat sayang dengan hambanya. Allah kirimkan ujian berbeda yang jawabannya pun berbeda dari sebelumnya, jadi saya belajar lagi cara menghadapi masalah saya ini dengan pemikiran baru. Lalu saat bertukar pikiran dengan guru yang saya percaya saya diberikan ilustrasi sesederhana ini

“Keluarga, suami, anak, usaha adalah cerminan diri kita. Mereka adalah hasil dari benih yang kita tanam melalui sikap, perilaku kita setiap waktu.”

Saat masa sulit datang atau sesuatu berjalan tidak seperti yang kita inginkan, jangan terburu buru berfikir kita adalah korban, berfikir bahwa tuhan tak pernah adil pada kita.

Mungkin kita baik, mungkin kita sudah melakukan usaha maksimal tapi itu menurut kita, belum tentu menurut Allah. Bisa jadi apa yang kita lakukan belum cukup atau salah dari sudut pandang lain.

Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah beristigfar dan menerima. Menerima bahwa jalan hidup dan ujian kita seperti ini, dengan menerima kita bisa lebih ikhlas dan fokus pada penyelesaian ketimbang mengeluh kenapa hal ini terjadi.

Setelah kesadaran emosi kita stabil, hal yang kita lakukan selanjutnya adalah mengingat apa yang sudah kita lakukan dan memperbaiki diri. Semua hal terkait satu sama lain dalam hidup, bisa jadi apa yang terjadi saat ini adalah manifestasi dari apa yang kita lakukan selama ini.

Untuk itu penting untuk tidak punya mental korban karena dengan demikian kita bisa lebih objektif menilai diri sendiri dan situasi dan tak segan mengakui jika memang kita berkontribusi atas apa yang terjadi.

Kemungkinan lain yang bisa terjadi jika kita tidak merasa melakukan hal yang salah tapi tetap harus menyelesaikan masalah yang terjadi, ini adalah ujian bersama. Kalau kata buku The Subtle Art of Not Giving a Fuck ada beberapa masalah yang harus kita selesaikan meskipun bukan kita biang masalahnya tapi hanya karena kita terhubung.

Dalam pemahaman lain bisa jadi ini adalah teguran untuk apa yang pernah kita lakukan entah dimana, entah kapan, semacam karma dalam bentuk berbeda.

Setelah melakukan dua hal yang aku sebut di atas, entah bagaimana hidup terasa lebih ringan. Saya lebih memilih untuk mencoba mengerti daripada menghakimi. Mencoba berdialog dan mendengarkan daripada terus berbicara dan berdebat.

Dalam menjalani pernikahan komunikasi menjadi kunci vital bagaimana kita bisa sepakat atas banyak hal. Bahkan mungkin sepakat untuk tidak sepakat atas benerapa hal karena kita cuma berbeda pendapat bukan berbeda perasaan.

Selain komunikasi, menjadi ikhlas atas semua yang terjadi dalam hidup membuat kita lebih hemat energi dan fokus pada menyelesaikan masalah yang ada menurutku. Ada hal hal yang memang terjadi di luar kendali kita, satu satunya kendali mutlak di dunia ini adalah respon kita sendiri.

Setelah tujuh tahun berlalu bisa dibilang setahun terakhir adalah tahun terbaik kami dalam berkomunikasi satu sama lain. Saya berusaha mendengarkan tanpa menghakimi, memahami jalan pikiran suami yang sering berbeda total dengan saya, dan ikhlas menjalani masalah yang datang sebagai masalah berdua. Dan akhirnya kami bisa melewati satu tahun kemudian (bersama).

Mempertahankan pernikahan adalah satu anugerah sekaligus pekerjaan berat. Ada banyak teman yang harus terpisah dengan pasangan hidupnya karena takdir yang berkehendak, ada pula yang harus mengambil keputusan berat berpisah setelah bertahan sekian lama.

Kembali saya tidak bermaksud menghakimi hanya bisa mendoakan semoga keputusan itu adalah yang terbaik. Karena saya tahu semuanya melalui proses panjang dan berliku.

Jadi bisa dibilang saat kita ada dalam kondisi pernikahan yang sehat bahagia, kita memiliki rejeki langit yang sulit untuk orang lain miliki. Berantem sedikit dan wajar masih terhitung bumbu asal jangan sampai mengarah abusive dan toxic relationship.

At the end i would like to say, thank you husband for another year down. I know it’s never been easy but we did it! Let’s grow old together.

Love,