Movies Drama And Hobby

AADC(R) : Ada Apa Dengan Crazy Rich?

Saya pernah ngobrol tidak sengaja dengan teman tentang gonjang ganjing kehidupan dan bumbu sosial media akhir akhir ini, lalu teman saya sempat menjawab

“Iya di umur kita ini sedang masa ingin membuktikan kesuksesan”

Bener juga ya, kalau dulu zaman sekolah validasi kesuksesan datang dengan menunjukan kita sekolah dimana peringkat berapa dan prestasi lainnya yang kita dapatkan. Di usia ini pekerjaan, jabatan. sudah kebeli apa dengan gaji berapa menjadi salah satu alat ukur kesuksesan bagi banyak orang.

Proses dan hasilnya tidak selalu sama untuk tiap orang, beberapa orang mungkin memilih ini untuk Fake it till you make it dengan berbagai alasan. Untuk kasus ekstrem bisa kita lihat di serial dan dokumenter Netflix Tinder Swindler, Inventing Anna dan di kasus lokal bisa kita lihat di kasus Afiliator situs judi online berkedok trading.

Kenapa sih sebenarnya orang bisa semarah itu pada mereka atas kerugian materi dan non materil yang terjadi?

Menurut saya pribadi jawabannya satu : mereka membuat seolah ada yang salah dengan hidup kita, seolah kita tidak cukup keras bekerja dan tidak cukup pintar mengelola uang yang ada. Seolah proses hidup kita terlalu lamban dan salah sedangkan mereka punya solusi untuk merubah nasib. Dan semuanya jadi masalah dengan cepat saat ternyata semuanya bohong belaka.

Mengutip kata pak Rhenald Kashali di youtubenya tentang Crazy Rich, ada proses dan waktu yang umumnya harus orang lewati untuk sampai ke posisi tertentu. Misal rata rata orang bisa menikmati hasil kerja keras seperti punya rumah mewah, rekening milyaran di usia 40 atau 50an. Jika lebih cepat seperti banyak ceo start up unicorn biasanya kita bisa lihat background keluarganya, ada campur tangan privillage dari orang tua atau keluarga mereka entah berupa kekayaan bawaan maupun jabatan yang membuat kita maklum dan mulai memproses semua pencapaian mereka lebih masuk akal.

Banyak Crazy Rich baru memangkas proses ini, mencapai hal tersebut di usia 20-30an dengan klaim mulai dari nol dengan bermodalkan kerja keras dan kesungguhan. Lantas logika pun mempertanyakan mulainya kapan dan bagaimana? bahkan Ahmad Sahroni saja yang terkenal sebagai Sultan Priok bisa seperti sekarang setelah 26 tahun berproses pun begitu Raffi Ahmad yang memulai karier dari usia sekolah baru bisa mengecap sukses saat ini. Hal ini pun membuat para ahli mempertanyakan darimana dan bagaimana semua kesuksesan bisa terjadi dalam waktu singkat.

Dalam dua tahun terakhir semenjak pandemi mulai memasuki Indonesia dan dunia begitu banyak orang yang diam dalam mode bertahan. Ada begitu banyak orang yang hidupnya berubah seketika karena hantaman dampak ekonomi dari wabah. Belum gonjang ganjing Perang Rusia Ukraina di tahun ini yang berpotensi berubah menjadi Perang Dunia III (jujur merinding tulis ini dan berdoa sekiat tenaga semoga gak sampai kejadian)

Di masa masa bertahan ini melihat orang flexing dengan segala pencapaiannya sedikit banyak memukul mental kita “kok dia bisa bertahan bahkan berlimpah tapi kita malah buat bertahan aja susah”, di masa rapuh ini tentu menjadi satu harapan besar saat orang menawarkan solusi instan dan dengan sukarela sharing bagaimana caranya.. Harapan semoga solusi ini menjadi jawaban untuk keluar dari masa bertahan, oleh karenanya saat malah mereka ditipu kemarahan pun terasa menjadi berlipat.

Di satu sisi saat orang pusing antri sekedar minyak goreng, melihat orang flexing di sosmed rasanya nirempati karena saat ini sedang masa luar biasa. Beruntung kasus ini akhirnya terkuak dan ahli mulai bicara soal fenomena banyaknya Crazy Rich yang menjadi istilah baru dalam dunia sosial Indonesia. Tidak semua memang tapi ada beberapa yang ternyata terindikasi fraud dan kasusnya sedang bergulir sampai sekarang.

Sumber : Youtbe Prof Rhenald Kashali klik di sini

Dari banyak kasus terkuak pun bisa jadi pelajaran buat kita untuk tetap berhati hati, tidak mudah percaya dan silau dengan apa yang orang lain tunjukkan. Karena benar seperti pemaparan Rhenald Kashali untuk menunjukkan kekayaan bisa menjadi signaling untuk mendapatkan kepercayaan orang bahwa dia sukses dan bisa dipercaya. Worst case setelah percaya jadi kasus penipuan seperti yang sudah sudah. Dari banyak hal yang akhirnya terkuak kita bisa bilang sama diri sendiri

Gapapa masih bekerja keras siang malam ambil lembur tapi belum kebeli tas luxury brand

Gapapa masih packing paket paket sendiri tapi belum bisa beli sport car

Gapapa masih bingung mandeg modal tapi belum bisa staycation tiap bulan

Setidaknya kita bersyukur bahwa kita menjalankan sektor rill yang menopang banyak proses ekonomi nyata. Kita tidak merugikan orang lain meskipun tidak nampak mengagumkan. Tidak ada yang salah dengan hidup kita. Kebebasan finansial tidak hanya ditentukan dari seberapa banyak kita menghasilkan tapi juga seberapa pintar kita mengatur pemasukan.

Mengatur pemasukan kalau kata mbak Iim Fahima salah satu bagian mengatur nafsu. Menjalani hidup minimalis di tengah masyarakat yang konsumtif memang menantang. Menggunakan baju berulang, pake mobil yang sederhana bertahun tahun sering dipertanyakan atau disangka penghasilan kita kurang. Padahal bisa jadi sebenarnya surplus di dalam cuma cara menikmati dan mengaturnya yang berbeda.

Sesuatu tetap salah meskipun dilakukan banyak orang dan sebaliknya sesuatu tetap benar meskipun tak banyak orang yang melakukannya. Di tengah pusaran berbagai trend dan kilau semoga hati dan pikiran kita selalu dikuatkan ya.

Makasi sudah mampir, salam hangat

Leave a Reply

Your email address will not be published.