Motherhood

Anaknya Ranking Berapa Bu?

Halo semua, tahun ini adalah tahun pertama saya bersentuhan dengan raport SD dan beberapa hari lalu akhirnya bisa menikmati berbagai acara yang biasanya dilakukan dalam menyambut kenaikan kelas. Alhamdulilan pandemi sudah mulai berlalu tapi tetap waspada ya.

Saya mulai memasuki tahapan menerima rapor tapi sebagai orang tua, bagaimana rasanya?. Ternyata meskipun cita cita saya ingin menjadi orang tua milenial yang lebih baik dari orang tua saya dulu tapi pola didik zaman dahulu tetap saja membekas di dalam pikiran. Tambahan note saya anak yang sangat kompetitif dari kecil.

Saat hari pembagian raport dilaksanakan dan perkembangan Freya sudah dijelaskan (nilainya lihat sendiri wkwkw) ada gatal dalam hati penasaran ingin tahu satu hal

“anak saya peringkat ke berapa di kelasnya?”

Duaaaar….! Hal yang ditahan ga usah tahu tapi kepo berat haha. Ini salah saya jujur buibu…

Beruntung ibu wali kelas Freya menjelaskan dengan sabar bahwa kurikulum terbaru yang dijalani saat ini mengisyaratkan untuk menghapuskan sistem ranking di kelas karena banyak anak dan orang tua terlalu fokus pada mengejar ranking di kelas daripada berfokus pada perkembangan diri anak tiap semester.

It would be nice if our kid be on top, but if it’s not everything is fine. Do we try to feed our pride? being that perfect parent? (monolog ke diri sendiri)

Kadang kita lupa ada begitu banyak jenis kecerdasan, sehingga satu parameter tidak bisa disamaratakan satu sama lain. Ilustrasinya kurang lebih seperti terlihat di bawah.

Kalian bisa jadi sudah familiar dengan quote Einstein mengenai kritik sistem pendidikan secara umum. Dan maafkan otak aku yang settingnya masih setingan lama. Tapi aku belajar pelan tapi pasti, untuk memperhatikan apa yang potensial dari diri anak dan menerima anak apa adanya seperti anak menerima kita orang tuanya apa adanya.

Seperti kata status Ibu Nani guru yang sempat viral soal prestasi anak.

Setiap kata yang tertulis menjadi sejuk dan arah di hati orang tua untuk belajar menerima cara baru mengarahkan anak ke jalan kesuksesan. Bahwa yang bisa bahagia cuma dokter dan insinyur dan anak yang pintar hanya yang jago matematika, tapi lebih dari itu.

Ada pepatah bilang lebih baik jadi kepala tikus daripada buntut harimau. Apalagi kalau bisa jadi kepala harimau tentu hal yang membanggakan namun sangat jarang terjadi. Kalau memang kamu salah satunya bersyukurlah tidak semua orang bisa menjadi seperti ini.

Jadi jangan lupa hargai dan rayakan setiap pencapaian sekecil apapun bersama anak. Buat mereka tetap bangga dengan dirinya dan segera menemukan apa yang benar benar mereka suka.

Selamat liburan!

Leave a Reply

Your email address will not be published.