Personal

Welcome To Chapter 3.1

Hmmhh…

Saya memulai menulis postingan kali ini dengan banyak revisi, maju mundur karena tulisan yang berpusat pada cerita pribadi sering membuat saya pribadi tak nyaman. Tapi saya berusaha memastikan semua isinya harus memberikan manfaat untuk teman teman yang mampir.

Baik…bagaimana jika dimulai dengan membahas awal tahun 2020 dan bulan Januari?Saya selalu suka bulan Januari karena bulan kelahiran saya dan bulan pertama di tahun yang baru, saat semua terasa akan dimula kembali dengan cara berbeda. Dengan harapan dan doa yang berbeda.

Tahun ini ada sesuatu yang baru, saya memulai tahun lebih awal…lewat jurnal.

Sudah setahun terakhir mulai aktif menulis dalam jurnal sebisanya semampunya sekeburunya. Karena…jurnal harian (jadwal kegiatan) sudah pindah ke bentuk digital di handphone saking pelupanya supaya bisa ingat hal yang harus dilakukan. Saya menuliskan banyak cerita dalam jurnal, secara tidak langsung menguraikan isi pikiran saya.

Dan hasilnya…super melegakan. Akhirnya jadi kebiasaan saya untuk menuliskan buah pikiran dan hal yang saya rasakan daripada secara tak sengaja saya tuliskam lewat sosial media. Menjadi media detox saya sebelum mengeluarkan buah pikiran ke media umum.

Apa yang saya lakukan dengan jurnal untuk memulai tahun lebih awal?

Menulis segala yang telah dilalui di tahun sebelumnya, mengapresiasi peningkatan dan “prestasi” yang telah dicapai, merelakan hal yang telah pergi, memaafkan kesalahan yang telah dibuat dan merenung akan seperti apa menghabiskan tahun mendatang.

Hal lain yang saya lakukan setahun terakhir adalah rutin membaca buku (kembali) dengan target. Gak muluk muluk satu buku dalam satu bulan, dan imbasnya luar biasa. Pola pikir berkembang pesat karena ada banyak hal baru yang saya dapatkan lewat buku. Apakah sempat? Ya disempet sempetin…kalau gak gitu ga akan sempat terus. Kaya pengen sehat saat sedang sakit meskipun pahit ya diminum juga.

Selain itu di tahun ini saya berusaha untuk mereka ulang skala prioritas. Layaknya decluttering pakaian yang rutin saya lakukan saya mulai menyortir semua kegiatan yang sudah dan akan saya lakukan dan mulai bertanya “Is it spark joy?” Anggaplah decluttering hidup supaya space waktunya lebih banyak, tujuan hidupnya lebih jelas dan energinya termanfaatkan lebih efisien.

Keterbatasan memberikan kita prioritas dan kreatifitas.

Dulu saya menganggap keterbatasan adalah bentuk kekalahan. Tapi setelah menjalani dan mulai merenung saya menyadari bahwa keterbatasan justru selalu hadir dalam hidup kita untuk membuat kita lebih selektif dalam hal yang kita ingin jalani dari berjuta kesempatan yang hadir. Dan tentu membuat kita lebih kreatif dalam berbagai aspek.

Selain keterbatasan hal berat yang memberikan saya pemahaman baru adalah mengenai cara menjalani hidup. Semanis manisnya kehidupan orang dalam kacamata kita tidak pernah ada yang ENAK, mereka mendapatkan segala sesuatu dengan perjuangannya.

Tuhan tidak semata mata memberikan cobaan karena benci tapi mengarahkan kita pada bentuk yang harus kita isi, mental yang harus kita miliki dan sosok yang kita idam idamkan, untuk sampai kesana kita harus “menghancurkan” diri kita yang lama.

Dan selalu ingat, at your lowest point people will show you their true color dan secara alami kamu akan tahu siapa yang tetap ada bersama kita menemani dan siapa yang pergi.

Apa yang saya lakukan saat ini terjadi pada saya?

Bersyukur karena Allah berbaik hati menyortir orang orang di sekitar kita, memberikan kita pelajaran berharga untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Value people who value you (kalau kata mbak zahra dalam tulisannya.

in every second of your life dont forget to grow unless your life will wasted in time.

Thanks for reading, tulisan kolaborasi pertama saya di tahun 2020 bersama Bandung Hijab Blogger.

Much Love

petite second room

 

22 Comment

  1. Suka banget kutipannya..” keterbatasan memberikan kita prioritas dan kreativitas” itu semacam the power of kepepet. Jd kita bisa bener-bener pilih mana yg harus jd prioritas. Sukaaa sama tulisannya 😍

  2. Sepakat banget dengan ini, aku pun selalu ingat, at your lowest point people will show you their true color dan secara alami kamu akan tahu siapa yang tetap ada bersama kita menemani dan siapa yang pergi.

    Apalagi diusiaku sekarang yang udah banyak, makin mengerucut pertemanan, dan yang bertahan hanya mereka yang punya jiwa yang tulus.

    1. betul teh prosesnya memang kadang menyakitkan kaya minum obat tapi setelahnya super melegakan kaya detox hehe

  3. Yes, agree. Bersyukur semakin kesini Allah menyortir orang-orang sekeliling yang semuanya ngasih energi positiv dan bikin aku memaknai banyak hal dalam kehidupan. Ada yang enak dan ‘gak enak’ menurut versi kita. Tapi percaya semua itu pasti yang terbaik menurut versiNYA

  4. Duh benerrr pisaann.. At your lowest point, people will show you their true colors. Kealamin pisan di pertengahan 2019.
    Super nyeri hate.
    But time will heal, dan setelahnya yang ada hanya “Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah”.
    Lepas dari orang2 toxic dan lingkungan toxic.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *